ARTI “BAHAGIA”

puncakrindu

Pertengahan 1991. Pagi ba’da Shubuh, mobil yang ditumpangi YAI RA berangkat dari Ndalem Al Fithrah Kedinding Surabaya, meluncur menuju Srengat – Blitar. Pagi itu hari Rabu, jadwal Mubaya’ah untuk Jamaah Blitar. Di dalam mobil hanya 3 orang : YAI RA, seorang sopir dan seorang anak muda penderek, yang belum setahun mengenal Beliau RA.

Saat meluncur di tol, si penderek ini bicara dalam hatinya sendiri, “Aduuh, perut saya agak perih. Lapar. Semalam memang kelupa, tak sempat makan malam”. Namun kemudian, dalam hitungan waktu kurang dari lima menit, YAI RA tiba-tiba berucap Dawuh :

“Gini ini, yang enak cari sarapan dulu, ya Fulan, yaa …??”

Antara kaget bercampur senang, sambil berusaha berlagak tetap tenang, si penderek merespon : “Yaa Yai, saya nderek”

“Nderek..?! Ya sudah pasti itu. Tapi sejujurnya, kamu setuju gak?” Tanya Beliau RA.

“Yaa Yai, saya sangat setuju” jawab si penderek.

Beliau RA kemudian Dawuh :

“Ya begitu. Orang hidup…

View original post 672 more words

Advertisements